Senin, 17 Desember 2012

peralatan pertanian



MODUL 1:
Kompetensi Khusus:
Setelah mempelajari Modul 1, mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan pengertian dan keadaan umum mekanisasi pertanian serta menjelaskan hubungan mesin usahatani dan pertanian.

HUBUNGAN MESIN USAHATANI DAN PERTANIAN



Pendahuluan
Mekanisasi pertanian adalah suatu cara untuk meningkatkan efisiensi usaha pertanian. Peningkatan efisiensi tersebut  meliputi produktivitas,  mutu,  dan  kontinuitas  pasokan produk-produk  pertanian  untuk  selalu  terus ditingkatkan dan dipelihara. Selain efisiensi di atas tadi juga ada sisi lain yang harus juga ditingkatkan efisiensinya yang meliputi: efisiensi lahan, tenaga kerja, energi, sumber daya (benih, pupuk, air), kualitas komoditas, kesejahteraan petani, kelestarian lingkungan dan produksi yang berkelanjutan.
Mekanisasi pertanian dalam kerangka pembangunan pertanian di Indonesia memiliki peran yang strategis yang meliputi peningkatan produktivitas, efisiensi kerja, produksi, diversifikasi, kualitas dan nilai tambah, pengembangan pertanian maju dan peningkatan lapangan kerja karena mekanisasi merupakan aplikasi ilmu teknik untuk mengembangkan dan mengorganisasikan operasi pertanian atau suatu introduksi dan penggunaan alat mekanis untuk operasi pertanian.
Menurut hasil Simposium Mekanisasi Pertanian tahun 1967 di Ciawi, Bogor, Jawa Barat, ilmu mekanisasi pertanian adalah ilmu yang mempelajari penguasaan dan pemanfaatan bahan dan tenaga alam untuk mengembangkan daya kerja manusia dalam bidang pertanian, demi kesejahteraan umat manusia. Pengertian pertanian dalam hal ini adalah pertanian dalam arti yang seluas-luasnya. Menurut Prof. A. Moens (Agricultural University Wageningen): “Mechanization of agriculture is the introduction and the utilization of any mechanical aid to perform agricultural operations”. Menurut Prof. Sunyoto (Universitas Gadjah Mada): “Agricultural Mechanization is defined as the application of mechanical energy in agriculture, while agriculture itself in broad sense is a science and method of plant and animal production, which is useful for man kind, including all the processing activities of the products to be used by man”.
Peralatan mekanis adalah semua jenis benda dan perlengkapan yang digerakkan oleh manusia, hewan, motor bakar, motor listrik, angin, air, atau sumber energi lainnya. Mekanisasi juga dapat didefinisikan sebagai semua penerapan ilmu keteknikan untuk mengembangkan, mengatur, dan mengontrol kegiatan produksi pertanian. Tujuan pokok mekanisasi di bidang pertanian adalah: 1) meningkatkan produktivitas pekerja; 2) merubah karakter pekerjaan pertanian, yaitu membuatnya menjadi tidak berat dan menarik; dan 3) meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian.
Smith dan Wilkes (1996) berpeendapat bahwa alat mekanis adalah alat yang dapat bergerak dan mempunyai tenaga (manusia, hewan, motor bakar/listrik, angin, air, dan sumber energi lain). Sedangkan operasi pertanian merupakan usaha manusia mengubah karakteristik/posisi suatu objek. Misalnya, tanah: diolah lalu ditanami; benih: dari gudang lalu disemai. Karakteristik objek pertanian ditentukan oleh tipe aktivitas, besar aktivitas (luasan/berat/jumlah), waktu (mulai-selesai), lamanya (jangka) waktu, hasil (kuantitas-kualitas), biaya, beban kerja, pengaruh terhadap lingkungan, dan sebagainya.
Namun demikian, ada sejumlah permasalahan yang berhubungan dengan alat dan mesin pertanian (alsintan), antara lain: adanya mesin tipe baru, bagaimana mengubah desain, bagaimana menguji komparatif/evaluasi, efisiensi dan efektivitas, studi tentang tanah, desain model alsintan, faktor waktu dan gerak, gaya bagian gerak (percepatan/ perlambatan), berat mesin dan keseimbangan, getaran dan kelelahan, dan sebagainya.
Selain itu, tahapan produksi dan pemasaran alsin masih dikoordinasi oleh American Society of Agricultural Engineering (ASAE), sebuah lembaga internasional yang berkedudukan di Amerika Serikat, yang telah melakukan kebijakan pilot mechines atau multilokasi, yang meliputi pengujian fungsional, mekanis (struktural dan ketahanan/ durability), kebutuhan daya dan gaya-gaya eksternal yang bekerja (bajak, dan sebagainya).
Kendala lain dalam penerapan mekanisasi di bidang pertanian, di antaranya adalah: 1) lahan sempit; 2) rasio pekerja dengan lahan yang tersedia kecil; 3) modal tidak tersedia; dan 4) laju pertumbuhan penduduk semakin meningkat.
Sejarah Mekanisasi Pertanian
Asal mula adanya mekanisasi di bidang pertanian dimulai dari semakin bertambahnya jumlah penduduk bertambah dan kebutuhan pangan bertambah sehingga bidang pertanian dan industri didorong untuk semakin semakin berkembang. Namun pada sisi yang lain, tenaga manusia dan ternak yang dapat digunakan semakin terbatas sehingga perlu introduksi alat dan mesin pertanian (pra dan pasca panen).
Menurut Daywin et al. (1991), manusia sebagai sumber daya adalah kurang efisien dan kurang efektif. Kemampuannya terbatas, sekitar 0.1 HP (horse power atau tenaga kuda) untuk kerja terus menerus. Meski demikian, seperti di negara-negara berkembang lainnya, di Indonesia daya manusia dan ternak masih memegang peranan penting. Penggunaan traktor sebenarnya telah dimulai pada tahun 1914, hanya saja masih terbatas pada usaha-usaha perkebunan. Sejak 1950, pemerintah mulai menaruh perhatian dalam pengembangan daya mekanis. Mulai saat itu, perkembangan penggunaan daya mekanis terutama pada bidang pengolahan hasil pertanian berkembang pesat.
Alat dan mesin pertanian sejak tahun 1970-an telah banyak diproduksi di dalam negeri, khususnya yang tergolong dalam alat mekanis pengolahan tanah, alat pemeliharaan tanaman, pompa air irigasi dan mesin engolahan hasil pertanian. Produksi traktor tangan pada tahun 1987/1988 sebanyak 3.334 unit.
Pada dasarnya tujuan pokok mekanisasi di bidang pertanian adalah untuk: 1) meningkatkan produktivitas pekerja; 2) merubah karakter pekerjaan pertanian, yaitu membuatnya menjadi tidak berat dan menarik; dan 3) meningkatkan kualitas kerja di lahan. Oleh karena itu, penggunaan alat dan mesin pertanian dianggap sebagai salah satu alternatif untuk mengisi kebutuhan tenaga dalam rangka peluasan areal, peningkatan intensitas tanam pada lahan yang ada dan perbaikan pengelolaan pascapanen.
Tiga periode penggunaan tenaga di bidang pertanian (menurut N.B. Walker dalam buku “Survey and Problems in Agricultural Engineering”):
1.       Periode Tenaga Manusia (1850): a) membosankan; b) perbudakan; c) pendapatan per kapita rendah; d) paling tidak 78 % penduduk bertani untuk memenuhi kebutuhan pangan negara; dan e) surplus hasil pertanian jarang terjadi.
2.       Periode Tenaga Hewan (1850-1900): a) penggunaan tenaga hewan memberi pengaruh pada penciptaan dan pengembangan mesin pertanian; b) jumlah penduduk di pertanian berkurang; c) petani mempunyai pandangan untuk pengembangan industri pertanian; d) perhatian pada penelitian di bidang pertanian meningkat; e) paling tidak 34 % penduduk bertani untuk memenuhi kebutuhan pangan negara; dan f) efisiensi meningkat dan surplus dapat tercapai.
3.       Periode Tenaga Mekanis (1900-sekarang): a) modal investasi mesin peralatan meningkat; b) timbul permasalahan manajemen tenaga kerja; c) meningkatkan gaya hidup petani; d) perkembangan di bidang keteknikan semakin meningkat; dan e) jumlah penduduk yang bekerja di bidang pertanian semakin berkurang.
Berdasarkan latar belakang sejarah di atas, maka ruang lingkup mekanisasi pertanian meliputi 6 (enam) bidang, yaitu: 1) bidang mesin budidaya pertanian; 2) bidang teknik tanah dan air; 3) bidang lingkungan dan bangunan pertanian; 4) bidang elektrifikasi pertanian; 5) bidang mesin-mesin pengolahan pangan dan hasil pertanian; dan 6) bidang sistem dan manajemen informasi pertanian.
Perbedaan Prinsip Usahatani Padi Lahan Kering dan Lahan Basah
Menurut Daywin, Sitompul, dan Hidayat (1999), terdapat sejumlah faktor yang membedakan usahatani di lahan kering dan basah, khususnya untuk padi.
1.       Lapisan Kedap
Pengetahuan yang umum dalam pertanian lahan kering menunjukkan bahwa pembentukan lapisan kedap di bawah lapisan topsoil atau lapisan olah harus dihindarkan. Para petani lahan kering suka dan selalu mempertahankan “lahan bebas lapisan kedap”.
Sebaliknya, bagi usahatani padi sawah di Asia, perlu membentuk dan mempertahankan lapisan kedap yang oiptimum. Dalam sejarah manusia, petani padi sawah menciptakan sistem penanaman dengan memindahkan bibit dari pesemaian agar mereka dapat membentuk dan mempertahankan lapisan kedap melalui operasi pelumpuran, dan agar pengendalian gulma dapat lebih baik dan mudah, dibanding sistem penanaman dengan menebar langsung.
Tabel 2.  Beda prinsip bertani di lahan kering dan sawah.

Pertanian lahan kering di Eropa dan Amerika (gandum, jagung, sayur-sayuran, dsb)
Pertanian padi sawah di Asia (padi, gandum, sayur-sayuran, dsb)
Hujan tahunan
300-600 mm/tahun.
1500-3000 mm/tahun, maks. 4500 mm/tahun
Kedalaman olah tanah
20-30 cm. Makin dalam makin baik (olah tanah minimum).
10-15 cm. Makin dangkal makin mudah dikerjakan. Kedalaman setelah pelumpuran 15-20 cm.
Datar dan kerataan
Tidak perlu.
Benar-benar datar dan rata. Rekomendasi Kementerian di Jepang untuk kedataran petak:   ± 2,5 cm Þ  ± 5 cm luas petak.
Galengan
Tidak perlu.
Sangat diperlukan.
Luas petakan
Makin luas makin baik.
Makin kecil makin mudah dibuat datar secara tradisional: 0,1-0,3 ga & < 1 ha. Rekomendasi Kementerian: 50 m x 20 m Þ 100 m x 20-30 m Þ
Lapisan kedap
Tidak harus terbentuk. Jika terbentuk, dihancurkan supaya akar tumbuh lebih baik.
Harus terbentuk dan dipertahankan supaya tidak bocor air irigasi. Petani tidak suka petakan bocor dan dalam.
Sumber: Daywin, Sitompul, dan Hidayat (1999)
Di daerah penanam padi, petani menikmati sumur dangkal dengan muka air tanah yang tinggi untuk keperluan sehari-hari sepanjang tahun sehingga lapisan kedap mempunyai fungsi yang sangat penting:
a.       Lapisan kedap dengan kekerasan > 7 kgf/cm2, biasanya sebesar 10-20 kgf/cm2 dalam ‘cone index’ dengan ketebalan lapisan sekitar 10-15 cm, mampu mendukung manusia, ternak, dan mesin.
b.       Untuk menghindarkan perkolasi yang berlebihan dari air irigasi, lapisan kedap dibuat > 40 mm/hari ke dalam air tanah, ke dalam atau di bawah subsoil, karena perkolasi yang berlebihan berarti hilangnya pupuk kandang dan pupuk buatan, yang dapat menyebabkan penurunan hasil.
c.       Dengan mempertahankan struktur yang optimum dari lapisan kedap, hasil yang lebih besar dan stabil dapat dicapai dan meminimumkan hilangnya air irigasi dan pupuk.
2.       Kedalaman Pembajakan
Pertanian lahan kering modern biasa mengolah topsoil sedalam 20 cm atau hingga 30 cm, dengan harapan pertumbuhan akar tanaman lebih baik yang mana membutuhkan air di lapisan subsoil untuk hidup. Namun untuk padi sawah, kedalaman pembajakan konvensional sejak adanya manusia dan tenaga ternak hanya 10-15 cm. Karena itu selalu ada air irigasi yang cukup tanaman di atas dan di dalam lapisan olah atau topsoil.
3.       Kerataan dan Ukuran Petakan Sawah
Petakan sawah harus benar-benar datar dan rata karena sifat-sifat dan permukaan air, sementara lahan kering tidak perlu datar dan rata. Nenek moyang petani di Asia, telah membuat banyak sawah dengan petakan kecil sejauh mereka mampu karena petakan lebih kecil akan memudahkan membuat lapisan olah datar dan rata.
Pada tahun 1970-an, kementerian di Jepang merekomendasikan luas petakan sawah kurang dari 100 m x 20-30 m, dengan semua saluran irigasi da drainasi berfungsi selama periode kematangan padi. Fasilitas drainasi tidak selalu dibutuhkan pada usahatani lahan kering.
Mekanisasi dan Produksi Pertanian
Produktivitas pertanian di Indonesia sudah saatnya berubah dari pola tradisional menjadi pola modern yang ramah lingkungan. Produktif tidak hanya di tataran on farm tetapi juga harus di tataran off farm. Pada level on farm yang harus mulai berbenah adalah pada level peningkatan nilai produksi dan efisiensi. Efisiensi di level on farm meliputi penggunaan benih, pupuk, air dalam upaya yang sangat sinergis, artinya harus ada korelasi dan hubungan yang seimbang antara ketiganya, sehingga diharapkan adanya keterpaduan yang menguntungkan bagi petani.
Banyak kasus muncul akibat tidak sinerginya ketika faktor tersebut seperti benih yang  tidak layak untuk dikembangkan, penggunaan pupuk dan pemakaian air yang berlebihan sehingga berpengaruh pada konversi dan degradasi lahan.
Pada level off farm, yang harus ditekankan adalah kemampuan pasokan komoditas, pengolahan lanjutan serta industrialisasi pedesaan berbasis pertanian. Titik tekan mekanisasi juga berpengaruh di sektor off farm, dengan adanya sentuhan mekanisasi maka nilai tambah dari komoditas akan lebih tinggi dari pada tanpa sentuhan. Sentuhan tersebut dapat berupa pengolahan lanjutan seperti penyimpanan, pengemasan, dan alur pendistribusian yang terpadu pada pemasaran komoditas.
Untuk mendukung keberlanjutan ini perlu adanya pendampingan secara berkala, penyiapan infrastruktur yang memadai, dan sosialisasi kepada masyarakat. Pendampingan secara berkala diwujudkan dengan melakukan pelatihan-pelatihan kepada kelompok tani akan pentingnya mekanisasi sesuai dengan pendekatan yang dijalankan. Pendekatan ini perlu dilakukan agar program bisa mengalami keberlanjutan yang baik, tidak hanya sekadarnya saja.
Mengutip dari makalah komisi mekanisasi pertanian dijelaskan bahwa pendekatan pengembangan mekanisasi pertanian ada 2 (dua) hal yaitu:
1.       Holistik: pengembangan dalam sistem holistik terpadu dan sinergi antara teknologi, prasarana dan kelembagaan.
2.       Progresif: pengembangan secara proaktif ke arah kemajuan melibatkan partisipasi stakeholder.
Penyiapan infrastruktur juga menjadi entri point dalam menjaga keberadaan mekanisasi. Infrastruktur penting karena memiliki peran yang strategis dan merupakan penunjang utama bagi penerapan mekanisasi pertanian. Lemahnya infrastruktur dapat menimbulkan ancaman serius terhadap keberadaan mekanisasi terutama dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Seperti contoh pada program swasembada dapat berjalan jika saja penerapan mekanisasi dan optimalisasi infrastruktur pertanian dapat bersinergi menjadi kesatuan yang utuh di lapangan.
Sosialisasi pengembangan program mekanisasi pertanian dapat dilakukan dengan strategi benar tepat sasaran. Jadi pendekatan sosialisasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pendekatan selektif dan pendekatan partisipatif. Pendekatan selektif yaitu dengan pemilihan teknologi disesuaikan dengan agroekosistem dan komoditas pertanian, sedangkan pendekatan partisipatif yaitu dengan pengembangan yang mengikutsertakan partisipasi aktif semua stakeholder.
Melihat dari adanya kebijakan sektor mekanisasi pertanian yang memiliki keberpihakan pada masyarakat akan sungguh naif jika hanya ada dalam tataran wacana saja. Sudah saatnya penerapan mekanisasi mulai menjamah di kalangan masyarakat petani sebagai stakeholder utama penyedia pangan, tidak hanya dimiliki oleh petani-petani besar. Untuk itu, semua arah kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah harus benar-benar tepat dan bermanfaat bagi pembangunan berlanjutan sektor pertanian ini.
Tanpa adanya kesatuan dukungan dan sinergisitas semua pihak yang saling bekerja bersama untuk kemajuan ini, niscaya prospek pengembangan mekanisasi pertanian akan menjadi buah sejarah kegagalan yang akan selalu diingat oleh generasi penerus kita mendatang. Sudah saatnya kita semua mulai menerapkan kebijakan yang bersifat proaktif dan berpihak kepada masyarakat dengan melibatkan partisipasi aktif stakeholder sehingga diharapkan mekanisasi pertanian lebih cepat berkembang.
Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian atau Balitbangtan Deptan (2005) menyatakan bahwa dukungan mekanisasi pertanian akan menjadi agenda pembangunan pertanian yang perlu diperhatikan jika dikaitkan dengan program revitalisasi pertanian, yang mengisyaratkan kepada tiga pilar utama, yaitu ketahanan pangan, pengembangan agribisnis, dan kesejahteraan rakyat. Sektor pertanian selalu dikaitkan dengan ketiga hal tersebut, karena merupakan sumber mata pencaharian yang sangat dominan bagi lebih dari 50 % penduduknya.
Dari sumber penelitian yang didapat dapat dilihat bahwa pada tahun 1999 lebih dari 65 % penduduk pedesaan yang hidup dari sektor pertanian, menguasai lahan kurang dari 0,5 ha/keluarga dan berpenghasilan antara Rp1.630.000,- sampai  Rp1.679.000,-/ tahun. Petani yang menguasai lahan antara 0,5 ha sampai 1,0 ha, memiliki penghasilan Rp2.650.000-Rp3.423.000/tahun. Sedangkan penduduk desa yang tidak bekerja di sektor pertanian justru mempunyai penghasilan lebih besar yaitu antara Rp3.138,000-Rp7.301.2000/tahun. Selain dari pada itu, penduduk perkotaan yang memiliki pendapatan terendah, telah melampaui pendapatan penduduk yang bekerja di sektor pertanian yang   memiliki lahan > 1 ha, yaitu Rp.4.650.000/tahun. Secara nasional penduduk perkotaan mempunyai pendapatan lebih besar dari Rp. 4.600.000,-/tahun sampai dengan Rp. 9,264,500/tahun.
Dengan demikian, semakin jelas bahwa sektor pertanian belum mampu memberikan pendapatan yang lebih baik meskipun pembangunan pertanian telah dijadikan fokus utama pembangunan ekonomi pada masa lalu. Karena itu revitalisasi pertanian menjadi jawaban untuk melakukan pembaharuan yang lebih terarah dan fokus. Revitalisasi pertanian tidak akan berjalan bila hanya dikerjakan sendiri oleh sector pertanian, tanpa melibatkan sektor lain seperti infrastruktur, perdagangan, industri dan manufaktur. Pembangunan pertanian perlu dibangun dengan skenario yang bulat sebagai fokus pembangunan ekonomi.
Meskipun tarikan dari sektor industri semakin besar sehingga tenaga kerja di sektor pertanian dirasakan berkurang di beberapa pusat-pusat produksi yang berdekatan dengan kota besar, namun tampaknya kecepatan arus tenaga kerja ke industri dan jasa, belum sepenuhnya mampu menurunkan persentase keterlibatan tenaga kerja secara cepat, sementara ini sumbangan tenaga kerja pertanian pada sektor ekonomi masih di atas 45 %. Faktor-faktor eksogenus tersebut masih diperkuat lagi dengan makin berkurangnya daya dukung sumber daya lahan. Sampai dengan tahun 1998 kurang lebih 10 juta ha lahan telah dieksplorasi untuk peningkatan produksi beras setiap tahun.
Namun data yang ada masih harus dikoreksi dengan makin meluasnya konversi lahan sawah produktif menjadi lahan industri khususnya di Jawa, yang tidak bisa lagi untuk memproduksi beras dan pangan karbohidrat lainnya. Sementara itu selama waktu 10 tahun (1983-1993), lahan pertanian di Indonesia telah menurun sejumlah 1,3  juta ha dan 1 juta di antaranya adalah di Jawa dan Bali. Tambahan lagi bencana El-Nino yang membawa dampak kekeringan, harus dipahami sebagai faktor eksternal yang tidak bisa dicegah, namun perlu diwaspadai dan dipakai sebagai indikator untuk melakukan suatu tindakan Early Warning System.
Mekanisasi Pertanian sebagai supporting systems mempunyai peran vital untuk ikut mendukung revitalisasi pertanian dalam arti yang luas, antara lain memberikan citra pertanian Indonesia yang kuat dan tidak berkesan kumuh, mampu menjadi harapan sebagian besar masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini sekaligus menyediakan pangan yang cukup bagi seluruh masyarakat dan menghasilkan devisa bagi tumbuhnya perekonomian negara dengan teknologi yang dibutuhkan. Karena itu revitalisasi pertanian tidak dapat terpisah dari pembangunan infrastruktur, kelembagaan, sumber daya manusia, pengembangan investasi dan permodalan dan teknologi termasuk mekanisasi pertanian.
Dari aspek sumber daya manusia, statistik menunjukkan bahwa tenaga kerja manusia untuk sektor pertanian dalam kurun waktu 1992-1997 telah mengalami penurunan dari 41 juta menjadi 34,5 juta orang. Penurunan lebih kurang 10 % atau sekitar 2 % per tahun merupakan suatu gambaran bahwa pekerjaan pertanian bukan pekerjaan yang menarik dan menjadi gantungan untuk dukungan hidup utama. Untuk sub sektor pertanian tanaman pangan dan hortikultura, dalam waktu 6 tahun tersebut berkurang 1,3  juta  tenaga kerja per tahun. Semakin menurunnya jumlah SDM yang terlibat justru semakin menunjukkan peningkatan produktivitas tenaga kerja, namun belum tentu diimbangi dengan peningkatan pendapatan petani.
Sebelum era krisis moneter tahun 1989-1995, telah terjadi pergeseran tenaga kerja akibat pertumbuhan ekonomi yang memberi kesempatan kerja lebih luas di sektor industri dan jasa. Hal ini memberi dampak nyata berkurangnya pekerja sektor pertanian, baik secara proporsional tetapi juga secara absolut seperti terlihat pada Tabel 3. Namun, proyeksi pada tahun 1998 diperkirakan terjadi perubahan peralihan tenaga kerja kembali ke sektor pertanian karena lumpuhnya sektor industri pada masa terjadinya krisis moneter.
T abel 3.  Distribusi persentase tenaga kerja di sektor pertanian dan jasa.1)
SEKTOR
1980
1985
1990
1995
19982)
Pertanian:





Orang
28.843.041
34.141.089
35.747.477
35.233.270
39.417.533
%
55,93
54,65
49,95
43,95
44,96
Industri:





Orang
5.133.391
6.281.049
9.030.101
10.985.507
9.933.288
%
9,96
10,06
12,63
13,71
11,73
Jasa:





Orang
17.251.387
21.613.239
26.112.890
33.809.283
22.725.436
%
34,11
35,29
37,42
42,34
43,71
Keterangan:
1) BPS 1995 dan 1998: Survei Angkatan Kerja Nasional 15 tahun ke atas.
2) Angka Proyeksi berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional.

Kebijakan Penggunaan Alsintan
Alat dan mesin pertanian telah digunakan dalam usaha tani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. Penggunaan alat dan mesin pertanian telah dirasakan manfaatnya oleh petani khususnya tanaman pangan dalam mempercepat pengolahan tanah, pengendalian hama, panen dan perontokan khususnya di daerah intensifikasi. Namun demikian jumlah alat dan mesin pertanian masih sangat sedikit dibanding dengan luas lahan yang ada. Ditinjau dari jumlah alat dan mesin yang digunakan, level mekanisasi pertanian masih berada + 30 persen. Di samping itu pemakaian juga belum optimum khususnya dalam Usaha Pengelolaan Jasa Alsintan (UPJA).Demikian pula angka susut   pascapanen juga masih besar yaitu berkisar antara 12,5-23 %. Untuk komoditas perkebunan, mekanisasi telah digunakan terutama untuk pengolahannya. Namun demikian lebih dari 65 % komoditas perkebunan belum dapat diolah sehingga peluang pengembangan mekanisasi untuk komoditas ini masih terbuka luas. Meskipun mekanisasi pertanian juga telah digunakan di bidang peternakan terutama untuk pengolahan pakan, penyediaan bibit dan pengolahan produk, namun jumlahnya masih jauh dari kebutuhannya. Untuk komoditas hortikultura, mekanisasi mulai dari irigasi sampai dengan pengolahan produk jadi masih belum mendapatkan perhatian yang layak. Meskipun demikian beberapa prototipe alat dan mesin pasca panen hortikultura telah tersedia dan siap untuk dikembangkan seperti mesin grader buah, penggoreng vakum, perajang dan pengering.
Industri alsintan sudah berkembang semenjak dua dekade terakhir khususnya untuk mencukupi kebutuhan alat dan mesin pertanian padi. Kapasitas terpasang dari industri traktor lokal sebenarnya lebih tinggi dari kebutuhan dalam negeri, namun karena kebijakan makro dalam tarif, harga alsin, bunga bank dan subsidi atau kredit yang belum sepenuhnya mendukung bagi industri maupun pemakai alsintan, maka perkembangan industri dan penggunaan tumbuh lambat.
Untuk meningkatkan produksi melalui peningkatan IP dari komoditas unggulan terpilih, diperlukan tambahan jumlah alsin baik untuk tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. Guna memenuhi tambahan kebutuhan tersebut diperlukan dana dalam bentuk investasi dan pengelolaan yang baik terutama melalui UPJA. Untuk mendukung tanaman pangan dan hortikultura diperlukan tambahan investasi alat dan mesin pertanian sebesar Rp60 T (triliun).
Target pengembangan alsin untuk tanaman padi adalah hand traktor, transplanter, weeder, pompa air, hand sprayer, reaper (pemanen), thresher dryer, dan mesin penggilingan padi. Untuk komoditas hortikultura, pengembangan mekanisasi diarahkan pada mesin grader dan pemeras jeruk, perajang multiguna dan penggoreng vakum untuk pisang serta traktor dan pompa air untuk bawang merah. Sedangkan untuk tanaman perkebunan diarahkan pada pengembangan mesin untuk pengolahan. Pengolahan pakan baik untuk unggas dan ruminansia merupakan prioritas yang harus dilakukan sehingga mesin pengolahan pakan menjadi prioritas pengembangan mekanisasi.
Dalam usaha meningkatkan dukungan mekanisasi pertanian rangka pengembangan mekanisasi seperti diuraikan di atas, kebijakan pengembangan mekanisasi pertanian harus mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, mutu dan nilai tambah, mendorong tumbuhnya industri alat dan mesin dalam negeri dan mendorong kemitraan antara industri besar dan UKM. Strategi yang perlu ditempuh dalam pengembangan mekanisasi pertanian adalah membangun industri pertanian di pedesaan berbasis mekanisasi pertanian pada sentra produksi. Untuk itu diperlukan dukungan kebijakan untuk pengembangan mekanisasi guna mendukung revitalisasi pertanian antara lain adalah: (1) pengembangan infrastruktur; (2) mendorong berkembangnya industri alsin dalam negeri dan (3) mengembangkan model skim kredit dan bantuan keuangan yang mendorong tumbuhnya mekanisasi pertanian.
Ciri utama pertanian modern adalah produktivitas, efisiensi, mutu dan kontinuitas pasokan yang terus menerus harus selalu meningkat dan terpelihara. Produk-produk pertanian kita baik komoditas tanaman pangan (hortikultura), perikanan, perkebunan dan peternakan menghadapi pasar dunia yang telah dikemas dengan kualitas tinggi dan memiliki standar tertentu. Tentu saja produk dengan mutu tinggi tersebut dihasilkan melalui suatu proses yang menggunakan muatan teknologi standar. Indonesia menghadapi  persaingan  yang  keras  dan  tajam  tidak  hanya  di  dunia  tetapi bahkan di kawasan ASEAN. Mampukan kita memacu pertanian kita menjadi sektor yang sejajar dengan tetangga dan dunia?
Keadaan di atas menunjukkan bahwa sektor pertanian akan tetap penting dalam perekonomian dan berperan dalam pembangunan nasional, terlebih jika wacana pembangunan yang terintegrasi antara pertanian, industri dan perdagangan dipandang sebagai suatu sistem entity yang utuh. Kaitan yang erat antara pertanian dan industri serta perdagangan senantiasa menuntut berkembangnya kebijakan pembangunan pertanian yang dinamis sejalan dengan transformasi perekonomian yang sedang terjadi. Dalam suasana lingkungan strategis yang berubah cepat, penajaman arah kebijaksanaan dan perencanaan pembangunan pada masa reformasi menjadi demikian penting.
Dengan mekanisasi pertanian diharapkan efisiensi dan produktivitas penggunaan sumberdaya dapat ditingkatkan, selain agar ketepatan waktu dalam aktivitas pertanian dapat lebih ditingkatkan. Pertanian merupakan kegiatan yang tergantung pada musim. Pada saat musim tanam dan musim panen tenaga kerja yang dibutuhkan sangat besar. Tetapi pada waktu lain tenaga kerja kurang dibutuhkan dan ini mengakibatkan terjadinya pengangguran tak kentara. Dengan mekanisasi pertanian semua aktivitas pertanian dapat diselesaikan dengan lebih tepat waktu sehingga memberikan hasil yang lebih baik, di samping itu penggunaan alat dan mesin pertanian dapat juga mengurangi kejenuhan dalam pekerjaan petani dan tenaga kerja dapat dialokasikan untuk melakukan usaha tani lain atau kegiatan di sektor lain yang sifatnya lebih kontinu.
Namun tidak semua teknologi dapat diadopsi danditerapkan begitu saja karena pertanian di negara sumber teknologi mempunyai karakteristik yang berbeda dengan negara kita, bahkan kondisi lahan pertanian di tiap daerah juga berbeda-beda. Teknologi tersebut harus dipelajari, dimodifikasi, dikembangkan, dan selanjutnya baru diterapkan ke dalam sistem pertanian kita. Dalam hal ini peran kelembagaan sangatlah penting, baik dalam inovasi alat dan mesin pertanian yang memenuhi kebutuhan petani maupun dalam pemberdayaan masyarakat.  Lembaga-lembaga  ini  juga  dibutuhkan untuk  menilai  respon  sosial,  ekonomi  masyarakat  terhadap  inovasi  teknologi,  dan melakukan penyesuaian dalam pengambilan kebijakan mekanisasi pertanian.
Alih Teknologi Mekanisasi Pertanian di Indonesia
Mekanisasi pertanian pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi lahan dan tenaga kerja, meningkatkan luas lahan yang dapat ditanami, menghemat energi dan sumberdaya (benih, pupuk, dan air), meningkatkan efektivitas, produktivitas dan kualitas hasil pertanian, mengurangi beban kerja petani, menjaga kelestarian lingkungan dan produksi pertanian yang berkelanjutan, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani (Salokhe dan Ramalingam 1998).
Awal perkembangan mekanisasi pertanian di Indonesia ditandai dengan pemanfaatan alat dan mesin pertanian peninggalan Belanda di Sekon. Alat dan mesin pertanian peninggalan Belanda ini kemudian dipindahkan ke Jawa dan digunakan untuk pengenalan serta pengembangan mekanisasi pertanian di Indonesia. Pada tahun 1950-an mulai didirikan pool-pool traktor di berbagai wilayah di Indonesia. Dengan bantuan pool traktor dan alat-alat pertanian ini, dilakukan pembukaan lahan di berbagai daerah. Pada awal-awal perkembangan mekanisasi pertanian ini, kita masih mengadopsi langsung teknologi dari negara maju. Padahal kondisi lahan pertanian kita dan sistem usahataninya jauh berbeda dengan negara asal teknologi. Akibatnya berbagai masalah timbul, seperti batas sawah menjadi hilang dan lapisan bawah yang kedap air rusak. Harapan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan juga tidak tercapai. Proses alih teknologi seperti ini sering disebut sebagai material transfer.

Tabel 4.   Jumlah dan kapasitas perusahaan alsintan skala menengah tahun 2000.
No
Provinsi
Jumlah perusahaan
Kapsitas produksi (unit)
1
DI. Aceh
2
4.000
2
Sumatera Utara
2
3.000
3
DKI, Jakarta
6
20.000
4
Jawa Barat
8
35.000
5
Jawa Tengah
3
10.000
6
DI. Yogyakarta
2
20.000
7
Jawa Timur
6
30.000
8
Kalimantan Timur
1
2.000
9
Sulawesi Tengah
1
1.000

Jumlah
30
125.000
Sumber: Anon (2000)

Tabel 5. Perkembangan produksi industri alsintan.
No
Nama Alsintan
88/89
90/91
92/93
94/95
96/97
1
Traktor tangan
2.490
6.330
9.350
9.818
11.860
2
Traktor mini
14
20
36
38
50
3
Traktor besar
188
200
360
540
632
4
Mesin penumbuk padi
830
1.337
1.511
1.587
1.980
5
Mesin perontok padi
500
909
1.432
1.503
1.845
6
Polisher
150
665
1.050
1.213
1.560
7
RMU
400
468
11.300
1.638
2.010
8
Pompa irigasi
10.800
7.973
55.714
70.200
95.875
9
Alat penyemprot hama
-
-
-
390.500
556.000
Sumber: Lisyanto (2002)
Korelasi antara Mekanisasi Pertanian dengan Kinerja Pertanian
1.       Korelasi antara Mekanisasi Pertanian dengan Kinerja Sektor Pertanian 
Seperti disebutkan sebelumnya, perkembangan mekanisasi pertanian di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1950-an. Tetapi pada awal perkembangannya, mekanisasi pertanian di Indonesia mengalami banyak hambatan baik dalam hal teknis, ekonomis, maupun sosial. Penggunaan alsintan baru mengalami peningkatan sejak tahun 1970-an karena kesadaran petani semakin tinggi akan manfaat mekanisasi pertanian. Kesadaran ini juga merupakan kebijakan untuk program swasembada beras waktu itu, sehingga semua usaha peningkatan produksi padi diupayakan dengan prioritas tinggi, terutama pada pembangunan irigasi, penyuluhan, dan perluasan areal pencetakan sawah baru.
Walaupun  pemakaian  alsintan  di  Indonesia  terus  mengalami  peningkatan  dari tahun  ke  tahun,  tetapi  tingkat mekanisasi di  Indonesia masih  ketinggalan dari negara-negara lain. Menurut Alfan (1999), Indonesia masih sangat ketinggalan pada pengembangan traktor. Pemakaian traktor di Indonesia hanya 0,005 kw/ha. AS 1,7 kw/ha, Belanda 3,6 kw/ha dan Jepang 5,6 kw/ha. Rendahnya pemakaian traktor ini mencerminkan mekanisasi pertanian yang masih rendah sehingga produktivitas pertanian kita jauh ketinggalan dari negara-negara maju di atas.
Kehilangan hasil dalam pertanian masih besar dan penanganan pascapanen juga kurang sehingga produk yang dihasilkan mutunya kurang baik. Data BPS menunjukkan bahwa pada tahun 1986/87 susut pascapanen ada pada angka 18-19 % dan terbesar pada panen dan perontokan masing-masing adalah 3 dan 5 %. Pada tahun 2004, Tjahyo Hutomo dkk. menunjukkan bahwa rendemen penggilingan padi hanya mencapai rata- rata 59 %, sedangkan angka rendemen pada proyeksi pengadaan pangan adalah 63 %. Suatu hal yang memiliki risiko tinggi pada ketahananan pangan, dan hal ini bisa merupakan indikasi kelemahan pada sistem kelembagaan perberasan nasional.
Tabel 6.   Pemakaian alsintan di Indonesia pada periode 1973-2001.
Tahun
Jenis alsintan

Traktor roda 2
Traktor roda 4
Pompa air
Sprayer
Thresher
Mesin penggilingan padi
Rice milling unit (RMU)
1973
1.914
1.600
*
74.190
*
1.347
21.627
1981
4.843
3.850
*
418.237
*
15.149
*
1988
16.804
4.316
*
918.699
103.019
*
26.936
1990
23.431
4.524
*
1.061.338
147.509
*
31.301
1994
50.224
5.384
*
1.300.966
262.121
*
*
1995
53.867
6.124
*
1.387.233
300.141
*
40.038
1997
74.893
4.483
99.309
1.550.807
351.702
34.227
41.392
1998
81.108
4.656
117.116
1.642.686
367.250
37.071
42.551
2000
97.033
3.976
190.013
1.760.543
388.609
34.754
45.402
2001
84.664
3.711
215.774
1.562.217
340.654
32.309
39.996
Keterangan: *) Data tidak tersedia
Sumber: Data tahun 1973-1995 bersumber dari Lisyanto, 2002. 
Mekanisasi pertanian dapat meningkatkan produktivitas pertanian melalui pengolahan lahan yang lebih baik, mengurangi kehilangan hasil serta meningkatkan ketepatan waktu dalam aktivitas pertanian. Selama musim tanam dan musim panen, permintaan tenaga kerja sangat besar. Dengan menggunakan alat dan mesin pertanian pekerjaan ini dapat diselesaikan  dengan baik dan tepat waktu. Dan tenaga kerja manusia dapat dialokasikan untuk pekerjaan lain.
Tabel 7.  Struktur ongkos per hektar usahatani di Indonesia.
Keterangan
1994
1995
1996
1998/1999
Jumlah Produksi (kg)
4,352
4,357
4,424
4,204
Nilai Produksi (Rp)
1,483,920
1,818,749
1,941,620
5,110,629
Pengeluaran (Rp):




       Bibit
22,055
25,606
28,035
98,709
       Pestisida
15,343
15,962
18,718
78,106
       Pupuk
91,449
105,423
113,201
366,215
       Upah buruh
239,550
280,801
301,689
627,498
       Lainnya
98,979
105,488
109,402
146,449
Jumlah Pengeluaran (Rp)
467,376
533,280
571,045
1,316,977
Pendapatan Bersih (Rp)
1,016,544
1,285,469
1,370,575
3,793,652
Urban CPI (1996=1)
0.85
0.93
1.00
2.02
Rural CPI (1996=1)
0.82
0.93
1.00
2.57
Pendapatan Bersih Riel di Perkotaan
1,195,934
1,382,225
1,370,575
1,878,046
Pendapatan Bersih Riel di Perdesaan
1,239,688
1,382,225
1,370,575
1,476,129
Sumber: Buku Statistik Indonesia 200, BPS (2001) dan Anon (2001)
2.       Korelasi antara Mekanisasi Pertanian dengan Kinerja Usaha Tani
Melalui  struktur  ongkos  usaha  tani  dapat  dilihat  proporsi  tiap  input  pertanian terhadap biaya usaha tani. Pada Tabel 7. dapat dilihat struktur ongkos per hektar usaha tani di Indonesia pada tahun 1994-1998/1999. Proporsi terbesar pada biaya usahatani adalah upah buruh. Pada saat krisis, tahun 1998/1999 pendapatan bersih petani mengalami peningkatan yang cukup besar. Kenaikan ini terjadi karena harga barang-barang naik, termasuk harga beras. Akan tetapi kenaikan pendapatan bersih  riil petani sebenarnya  tidak sebesar kenaikan  pendapatan nominalnya. Pendapatan bersih riil di rural hanya meningkat 7.7 persen dari tahun sebelumnya.
Harapan dan Tantangan Pengembangan Mekanisme Pertanian ke Depan
Alih teknologi mekanisasi pertanian telah berjalan di Indonesia dengan didahului fase material transfer, dimana seluruh bentuk baik teknologi dan pengetahuan diterapkan seperti yang berlaku di negara asal, namun fase ini tidak memberikan hasil pengetahuan  kecuali pengalaman berhadapan dengan teknologi modern pada zaman itu. Fase tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyesuaian penyesuaian yang diadop melalui design transfer dimana konsep, metodologi dan sistem sebagian besar masih tetap menggunakan asli negara asal, hanyadilakukanpenyesuaiandalamskalaekonominya. Yang terakhir, dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta informasi yang makin maju, secara bertahap, proses alih teknologi mekanisasi di Indonesia mencapai tahap capacity transfer. Pada fase ini, perencanaan, pengembangan dan perluasan mekanisasi pertanian dicoba dilakukan sesuai dengan kemampuan adaptasi dan adopsi yang melibatkan lingkungan sosial ekonomi.
Agar mekanisasi pertanian dapat berkembang dengan baik, maka adopsi teknologi yang dilakukan harus tepat. Artinya, teknologi yang diadopsi dari pihak luar harus dimodifikasi dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia agar teknologi tersebut dapat diterima dan dimanfaatkan dengan baik.
Untuk mengembangkan kelembagaan mekanisasi pertanian, strategi yang dapat dilakukan antara lain: Pertama, membangun asosiasi petani yang kuat agar melalui asosiasi ini dapat tercipta komunikasi antara pemerintah dengan petani sehingga petani dapat menyalurkan aspirasi dan kepentingannya dengan lebih baik.
Kedua, pemerintah perlu menetapkan kebijakan perdagangan yang kondusif untuk mendukung perkembangan industri alsintan dalam negeri, dan memeratakan distribusi alsintan di tiap wilayah Indonesia.
Ketiga, riset dan pengembangan harus ditingkatkan, dan kerjasama antara lembaga riset pemerintah, swasta, universitas, serta lembaga riset asing perlu dibina untuk meningkatkan inovasi teknologi Indonesia.
Keempat, mendirikan lembaga keuangan pertanian yang memberi kemudahan bagi  petani dalam memperoleh kredit, baik itu sebagai modal usaha maupun untuk pembiayaan aktivitas pertanian melalui skim kredit pertanian.
Kelima, memberikan pelatihan dan pendidikan bagi petani agar petani mampu mengoperasikan alsintan dengan baik dan aman. Di samping itu, pendidikan dan pelatihan dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani serta memajukan cara berpikir petani.
Keenam, mendirikan fasilitas produksi dan perbaikan lokal agar desain dan produksi alsintan dapat dilakukan secara spesifik sesuai dengan kondisi lahan setempat, mengurangi biaya transportasi ke petani, dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja di desa.
Ketujuh, meningkatkan jasa penyewaan alat dan mesin pertanian agar petani kecil yang tidak sanggup membeli alsintan dapat menggunakan alsintan dan mendapatkan  manfaat darinya. Dalam usaha sewa jasa alsintan, kemampuanmanajemen dan profesionalisme kelompok tani dan KUD perlu ditingkatkan agar mampu mendapatkan keuntungan dari usaha sewa jasa yang dilakukan.
Peran pemerintah sangat penting dalam menciptakan kondisi dimana setiap pihak yang terlibat dalam mekanisasi pertanian dapat memperoleh manfaat dan dapat berkembang. Dan tentu saja tujuan akhir dari mekanisasi pertanian adalah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat.
Soal Latihan dan Jawaban
1.      Jelaskan apa yang dimaksud dengan ilmu mekanisasi pertanian!
Jawaban:
Menurut hasil Simposium Mekanisasi Pertanian tahun 1967 di Ciawi, Bogor, Jawa Barat, ilmu mekanisasi pertanian adalah ilmu yang mempelajari penguasaan dan pemanfaatan bahan dan tenaga alam untuk mengembangkan daya kerja manusia dalam bidang pertanian, demi kesejahteraan umat manusia.
2.       Sebutkan dan jelaskan 3 (tiga) perbedaan prinsip antara usahatani padi lahan basah dan lahan kering!
Jawaban:
2.1.    Lapisan Kedap
Lapisan kedap mempunyai fungsi yang sangat penting:
a.       Lapisan kedap dengan kekerasan > 7 kgf/cm2, biasanya sebesar 10-20 kgf/cm2 dalam ‘cone index’ dengan ketebalan lapisan sekitar 10-15 cm, mampu mendukung manusia, ternak, dan mesin.
b.       Untuk menghindarkan perkolasi yang berlebihan dari air irigasi, lapisan kedap dibuat > 40 mm/hari ke dalam air tanah, ke dalam atau di bawah subsoil, karena perkolasi yang berlebihan berarti hilangnya pupuk kandang dan pupuk buatan, yang dapat menyebabkan penurunan hasil.
c.       Dengan mempertahankan struktur yang optimum dari lapisan kedap, hasil yang lebih besar dan stabil dapat dicapai dan meminimumkan hilangnya air irigasi dan pupuk.
2.2.    Kedalaman Pembajakan
Di dalam pertanian lahan kering yang modern, adalah biasa untuk mengolah topsoil sedalam 20 cm, atau jika mungkin 30 cm, dengan harapan agar pertumbuhan akar tanaman lebih baik yang mana membutuhkan air di lapisan subsoil untuk hidup.
Akan tetapi untuk padi sawah, kedalaman pembajakan konvensional sejak adanya manusia dan tenaga ternak hanya 10 sampai kurang dari 15 cm saja. Karena itu selalu ada air irigasi yang cukup tanaman di atas dan di dalam lapisan olah atau topsoil.
2.3.    Kerataan dan Ukuran Petakan Sawah
Petakan sawah harus benar-benar datar dan rata karena sifat-sifat dan permukaan air, sementara lahan kering tidak perlu datar dan rata. Nenek moyang petani di Asia, telah membuat banyak sawah dengan petakan kecil sejauh mereka mampu karena petakan lebih kecil akan memudahkan membuat lapisan olah datar dan rata. Pada tahun 1970-an, kementerian di Jepang merekomendasikan luas petakan sawah kurang dari 100 m x 20-30 m, dengan semua saluran irigasi/drainasi berfungsi selama periode kematangan padi. Fasilitas drainasi tidak selalu dibutuhkan pada usahatani lahan kering.
3.      Sebutkan 3 (tiga) kebijakan pengembangan mekanisasi guna mendukung revitalisasi pertanian!
Jawaban:
Dukungan kebijakan untuk pengembangan mekanisasi guna mendukung revitalisasi pertanian antara lain: (1) pengembangan infrastruktur; (2) mendorong berkembangnya industri alsin dalam negeri dan (3) mengembangkan model skim kredit dan bantuan keuangan yang mendorong tumbuhnya mekanisasi pertanian.
4.      Sebutkan 5 (lima) fungsi dari mekanisasi pertanian dalam pembangunan pertanian!
Jawaban:
4.1.    Mempertinggi efisiensi tenaga manusia;
4.2.    Meningkatkan derajat hidup petani;
4.3.    Menjamin kualitas, kuantitas, dan kapasitas produksi pertanian;
4.4.    Memungkinkan pertumbuhan pertanian untuk kebutuhan keluarga (konsumtif) ke arah pertanian perusahaan (produktif);
4.5.    mempercepat transisi bentuk ekonomi dari sifat agraris ke industri.
5.      Sebutkan permasalahan dalam pengembangan mekanisasi pertanian!
Jawaban:
5.1.    Luasan lahan usahatani yang relatif sempit;
5.2.    Rasio pekerja dengan lahan yang tersedia kecil;
5.3.    Modal tidak tersedia atau terbatas; dan
5.4.    Laju petumbuhan penduduk semakin meningkat.
5.5.    Pembuatan mesin tipe baru;
5.6.    Perbaikan suatu mesin, pembuatan model baru dari mesin yang sudah ada atau perubahan desain untuk mengurangi biaya pembuatan mesin tersebut;
5.7.    Uji komparatif dari beberapa mesin atau evaluasi untuk kerja dari suatu mesin;
5.8.    Studi tentang peningkatan efisiensi dan efektivitas penggunaan mesin yang ada. Sebagai contoh, menentukan penyetelan yang tepat dan kondisi operasi dari suatu mesin panen agar kerusakan biji dan susut seminimum mungkin;
5.9.    Penelitian dan studi tentang masalah fundamental yang tidak langsung berhubungan dengan mesin tertentu, seperti studi mekanika tanah dalam hubungannya dengan pengolahan tanah dan traksi;
5.10.  Penelitian desain model alsin dengan memperhitungkan faktor waktu dan gerak yang efisien, gaya bagian gerak (percepatan/perlambatan), berat mesin dan keseimbangan, getaran dan kelelahan, dan sebagainya;
5.11.  Tahapan penelitian, produksi, dan pemasaran alsin masih dikoordinasi oleh American Society of Agricultural Engineering (ASAE);
Daftar Pustaka
Alfan, Z., 1999. Mekanisasi, pemecahan masalah efisiensi kerja petani. http://www. indomedia.com/bpost/012000/20/opini/opini1.htm.
Bidang Infokom Imatetani Unibraw, 2010. Mekanisasi pertanian: Kini dan nanti di Indonesia. Traksi: Nafas pergerakan Imatetani. E-magazine Ikatan Mahasiswa Teknik Pertanian Indonesia. Edisi 1/Tahun I/Juli 2010. Universitas Brawijaya. Malang, Jawa Timur.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2005. Prospek dan arah pengembangan agribisnis: Dukungan Aspek Mekanisasi Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.
Daywin, F. J., R. G. Sitompul, dan I. Hidayat, 1999. Mesin-mesin budidaya pertanian di lahan kering. Bogor, Jawa Barat: Academic Development of the Graduate Program, The Faculty of Agricultural Engineering and Technology, Institut Pertanian Bogor. JICA-DGHE/IPB Project/ADAET: JTA: 9a(132).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas lapang. http://teknoperta.wordpress.com/2008/ 09/15/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-kapasitas-lapang-2/.Diakses tanggal 30 November 2010.
Handaka, 2004. Inovasi mekanisasi pertanian berkelanjutan. Suatu Alternatif Pemikiran.
Handaka dan Joyowinoto, 2002. Proses inovasi teknologi mekanisasi pertanian di Indonesia. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Badan Litbang Pertanian. Bogor, Jawa Barat.
Hermawan, W., 2010. Kinerja mesin-mesin pengolahan tanah untuk penyiapan penanaman di lahan kering. Prosiding Seminar Nasional Perteta 2010, Purwokerto, 10 Juli 2010: Revitalisasi Mekanisasi Pertanian dalam Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi. Purwokerto, Jawa Tengah.
Joyowinoto, 2004. Pengembangan mekanisasi pertanian kinerja dan tinjauan kelembagaan.
Kapasitas lapang dan efisiensi peralatan. http://teknoperta.wordpress.com / 2 0 0 8/0 9/1 5/ faktor-faktor-yang-mempengaruhi-kapasitas-lapang-2/.
Lisyanto, 2002. Pengembangan teknologi berbasis pertanian: Suatu modal kemandirian dalam menghadapi era global. Makalah Pengantar Falsafah Sains. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. http://rudyct.tripod.com/sem1_023/ lisyanto.htm.
Nuswantara, B., 2002. Prospek bank pertanian di Indonesia: Kajian falsafah sains terhadap skim kredit pertanian. Tugas Mata Kuliah Falsafah Sains. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor, Jawa Barat.
Politeknik Banjarnegara, 2010. Mekanisasi pertanian. Banjarnegara, Jawa Tengah.
PSP dan Departemen Pertanian, 2003. Evaluasi dampak deregulasi agroinput. Kerjasama PSP-IPB dan Departemen Pertanian, Jakarta.
Smith, H. P. dan L. H. Wilkes, 1996. Mesin dan peralatan usaha tani. Edisi keenam, cetakan kedua. T. Purwadi, penerjemah. G. Tjitrosoepomo, editor.  Judl asli: Farm machinery and equipment. Sixth edition (Harris Pearson Smith, 1976). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press (Anggota IKAPI).
Soedjatmiko, dkk., 1995. Sejarah mekanisasi pertanian: Fakta, analisis, masa depan.  Kerjasama Asset Professional-Jurusan Mekanisasi Pertanian, Institut Teknologi Indonesia. Serpong.
Soemangat, 2003. Kebijaksanaan transfer inovasi mekanisasi pertanian di tingkat pedesaan untuk pengembangan agrobisnis.
Soenarto, D., P. Gardjito, M. Makbul, V. L. Tjandrakirana, dan K. Hidajat, 1969. Mekanisasi pertanian. Djakarta: PT. Soeroengan.
Soentoro, 1998. Pengembangan mekanisasi pertanian tinjauan aspek ekonomi dan kelembagaan. Prosiding Perspektif Pemanfaatan Mekanisasi Pertanian dalam Peningkatan Daya Saing Komoditas. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian.  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor, Jawa Barat.
The Library of Congress Country Studies, 1998. Agriculture. http://reference. allrefer.com/ country-guide-study/southkorea.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar